Safari Politik Taufik Kiemas Memperkokoh Kekuasaan Megawati Juni 11, 2002
Posted by Slamet Hariyanto in ANALISA POLITIK [ Nasional dan Lokal ].Tags: adi sasono, icmi
trackback
Oleh Slamet Hariyanto
Sayap politik Taufik Kiemas mulai bergerak secara maraton menggarap kekuatan diluar PDIP. Dari empat agenda yang sudah dilakukan, kelihatan sekali keinginan suami Presiden Megawati Soekarnoputri itu mulai merangkul kelompok Islam. Seolah-olah ingin merajut dua kutub berbeda, koalisi kelompok Islam dan nasioalis. Masih relevankah membuat dikotomi dua kelompok ini? Sebab, pasca jatuhnya rezim orde baru, banyak pihak sudah menganggap dikotomi tersebut sudah kuno.
Tapi dengan langkah politik Taufik ini, harus diakui bahwa PDIP sebagai partai pemenang pemilu 1999, tidak punya kader yang mumpuni untuk dapat menjalankan lobi-lobi dengan lawan politiknya. Pengalaman gagalnya Megawati tampil sebagai presiden pada SU MPR 1999 karena tidak adanya lobi-lobi politik dengan pihak lain. Keterlibatan jajaran DPP PDIP dalam lintas fraksi menjelang SI MPR 2001 ternyata tidak membawa kerekatan yang mapan.
Terbukti belakangan ini bermunculan forum pertemuan elit parpol seperti yang dilakukan di kediaman Amien Rais dan Yusril Ihza Mahendra yang tidak melibatkan PDIP. Bahkan PKB ikut serta dalam forum yang bisa mengarah pada kaukus politik parpol Islam tersebut. Kebaradaan forum-forum itu menunjukkan lintas fraksi yang biasa mangkal di rumah tokoh PDIP Arifin Panigoro menjadi melemah. Kondisi ini kalau dibiarkan berlarut-larut, pasti tidak menguntungkan bagi PDIP dan kekuasaan Megawati Soekarnoputri. Apakah ini yang mendorong Taufik Kiemas “keluar kandang” menangani langsung jalinan politik dengan kelompok Islam?
Langkah Taufik “turun gunung” sudah tepat dengan situasi politik saat ini. Situasi politik nasional, secara kasat mata memang tidak terlihat ada gejolak. Buktinya tidak nampak pernyataan saling menyerang antar parpol besar. Tapi dibalik itu, diam-diam telah terjadi persaingan politik antar parpol, khususnya antara parpol Islam plus PKB dengan PDIP. Ada tanda-tanda PDIP akan ditinggalkan kelompok parpol Islam plus PKB. Sementara, Partai Golkar masih berada di posisi tengah.
Maka mencermati safari politik Taufik Kiemas mulai dari mendatangi acara KAHMI, ketemu dengan Ketua Umum ICMI Adi Sasono, bertemu dengan Gus Dur dan terakhir dengan Hamzah Haz, tentu punya target politik jangkan pendek dan panjang. Serangkaian pertemuan itu terkesan maraton karena dilangsungkan dari tanggal 24 Mei dengan KAHMI dan 6 Juni dengan Hamzah Haz.
Sasaran jangka pendeknya, tentu Taufik ingin mengamankan posisi Megawati pada Sidang Tahunan MPR. Dalam perhelatan nasional ini posisi PDIP agak ketir-ketir berhadapan dengan lawan-lawannya ketika pembahasan amademen UUD 1945. Opini publik yang sudah mengganggap PDIP tidak ubahnya seperti rezim orde lama dan orde baru dalam mensakralkan dasar negara ini, sangat tidak menguntungkan posisi politis Megawati di mata rakyat.
Evaluasi bahwa reformasi “jalan ditempat” dan bahkan dinilai telah mandek, juga menjadi beban politis bagi PDIP. Opini publik itu kalau tidak disikapi sejak dini oleh PDIP, tentu berbahaya bagi pemerintahan Megawati. Andaikata Megawati terselamatkan memimpin pemerintahan sampai akhir periode, tetap tidak menjamin perolehan suara PDIP bisa menang seperti pemilu 1999.
Sedangkan sasaran jangka panjang, Taufik mencoba membangun peluang Megawati pada perebutan posisi presiden pasca pemilu 2004 nanti. Andaikata sistem pemilihannya tetap seperti sekarang, peluang Megawati sangat tergantung dari koalisi dengan kekuatan politik lainnya. Pernyataan tokoh-tokoh parpol Islam yang menganggap bahwa dikotomi Islam dan nasionalis sudah tidak relevan, harus dicermati secara mendalam. Sebab, bisa saja terbentuk kaukus parpol Islam plus PKB, Golkar, PAN punya paket tersendiri tentang calon presiden dan wapres.
Koalisisi mereka bisa melahirkan pasangan kader bangsa yang Islam dan sekaligus nasioanalis. Mereka bisa berasal dari parpol Islam, PKB, Golkar, PAN bahkan tidak mustahil dari kader TNI-Polri. Adanya rumusan, anggota TNI boleh ikut memilih dalam pemilu 2004 nanti, seperti yang digagas dalam Revisi UU Pemilu, merupakan format baru dalam praktek demokrasi di Indonesia. Sebab, secara bertahap akan dikembangkan wacana baru yang subtansinya label nasionalis tidak hanya monopoli dari kelompok tertentu.
Maka bisa dipahami kalau safari politik Taufik Kiemas itu ibarat sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Soal target jangka pendek, bisa saja Taufik berhasil. Langkah politiknya cukup produktif mempertahankan kekuasaan Megawati sampai 2004. Kuncinya hanya satu, asal Megawati tidak memecat menteri kabinet dari partai lain seperti yang pernah dilakukan Gus Dur dulu. Tapi soal target jangka panjang, belum bisa dikalkulasi karena masih banyak variabel politik yang bakal terjadi selama dua tahun terakhir nanti.
Prinsipnya, semua tokoh parpol masih berorientasi “siapa mendapat apa”. Jadi kepentingan elit politik dan kelompoknya sangat menonjol dalam strategi perjuangan semua parpol di Indonesia. Perjuangan parpol untuk rakyat banyak, masih bertaraf slogan, bukan dalam tindakan politik riil. Sejarah semacam itu masih membelenggu praktek politik di negeri ini.

