Amien Rais Mencari Pendamping Cawapres Juni 12, 2003
Posted by Slamet Hariyanto in ANALISA POLITIK [ Nasional dan Lokal ].Tags: agum gumelar, amien rais, sby
trackback
Oleh Slamet Hariyanto
Saking mantepnya PAN dengan pencalonan Amien Rais sebagai presiden pada Pemilu 2004, rakernas 2003 di Makasar mengagendakan pembahasan calon wakil presiden (cawapres) yang layak mendampingi Ketua Umum DPP PAN itu. Sebenarnya tidak tepat bila disebut bahwa soal memilih cawapres ini PAN telah menyerap aspirasi dari bawah. Sebab, dalam pembukaan rakernas ini justru Amien Rais yang menyodorkan 9 nama tokoh untuk dibahas utusan dari daerah-daerah.
Sembilan cawapres itu adalah Susilo Bambang Yudhoyono, Agum Gumelar, Marwah Daud Ibrahim, Sultan Hamengkubuwono X, Jusuf Kalla, Siswono Yudohusodo, Hasyim Muzadi, Syaefullah Yusuf, Rachmawati Soekarnoputri. Khusus soal masuknya nama Susilo Bambang Yudhoyono menurut Amien Rais berdasarkan aspirasi dari Jatim. Padahal Ketua DPW PAN Jatim Sulthon Amien sebelum berangkat ke rakernas sudah menyatakan menolak Susilo Bambang Yudhoyono karena dia militer. Bahkan, sebelum rakernas, ada sejumlah nama diluar tokoh tersebut yang sudah disebut daerah-daerah.
Itu beberapa alasan yang bisa dipakai sebagai landasan analisis bahwa rakernas bukan menjadi ajang penyaringan aspirasi cawapres dari bawah. Kalau konsisten dengan aspirasi dari bawah tentu prosesnya justru terbalik. Pada saat penutupan rakernas Amien Rais disodori sejumlah nama cawapres yang diusulkan dari peserta. Oleh karena itu forum rakernas di Makasar ini lebih tepat bila disebut sebagai ajang cari pijakan. Artinya, forum rakernas diminta memberi mandat kepada DPP PAN (khususnya Amien Rais) untuk mencari pasangan cawapres.
Memilih pasangan bagi Amien Rais tentu harus mempertimbangkan berbagai kondisi obyektif yang melingkupi PAN. Sebagai parpol yang hanya memperoleh suara 7 persen pada pemilu 1999 lalu, tentu posisi tawar PAN tidak sebesar yang dimiliki PDIP dan Partai Golkar. Logikanya, PAN justru berada pada posisi cawapres yang dilamar parpol besar. Persoalannya, Amien berkali-kali menegaskan dirinya hanya tertarik jadi capres dan tidak mau dijadikan cawapres.
Dilihat dari optimisme orang berpolitik, tekad seperti itu memang diperlukan. Tapi, strategi dan taktik politik juga punya alternatif. Apalagi, RUU Pilpres yang kini sedang dibahas DPR, belum tentu aman seratus persen bagi parpol yang hanya memperoleh suara dibawah 20 persen. Mungkinkah PAN sadar bahwa perlu ada alternatif strategi agar Amien meralat pernyataannya dan bersedia dijadikan cawapres? Untuk tidak mempermalukan Amien di mata publik, forum rakernas (bisa yang akan datang) bisa dipakai sebagai “matras” untuk membuat keputusan agar mantan Ketua PP Muhammadiyah itu boleh jadi cawapres.
Tentang peluang kesediaan 9 tokoh yang diincar Amien Rais itu, perhitungan politiknya juga masih panjang. Sebab, kecuali Syaefullah dan Rachmawati, 7 tokoh lainnya sudah dibahas dalam wacana konvensi capres/cawapres Partai Golkar, pasti tawaran dari PAN bakal ditolak. Sebab,tawaran dan dukungan dari Partai Golkar jelas lebih menjanjikan katimbang dari PAN.
Peluang PAN untuk mengincar salah satu dari 7 tokoh tersebut hanya menunggu sisa-sisa konvensi Partai Golkar. Hal yang sama terjadi bila PDIP juga mengincar mereka. Maka PAN juga bakal mendapat sisa-sisa cawapres yang tidak dipilih PDIP. Otomatis, tokoh yang bersedia dipinang PAN, tentunya berada dibawah standar Partai Golkar dan PDIP. Dengan demikian, harapan PAN untuk mencari pendamping Amien Rais, kriterianya adalah figur tokoh yang bisa mendongkrak perolehan suara dalam Pemilu 2004 nanti, masih jauh dari harapan.
Kompetitor utama Amien Rais dalam bursa capres nantinya hanya calon yang dijagokan PDIP dan Partai Golkar. Ketokohan Rachmawati belum bisa dipakai untuk menyaingi kuatnya dukungan terhadap Ketua Umum DPP PDIP Megawati. Sedangkan, Jusuf Kalla, andaikata tidak dipakai Partai Golkar, pasti lebih memilih berpasangan dengan Megawati bila benar-benar PDIP meminangnya.
Yang tidak punya beban kendala organisatoris, hanya Susilo Bambang Yudhoyono dan Agum Gumelar. Resikonya, kalau memilih kedua tokoh ini, tidak memiliki basis pendukung yang besar dan kuat. Bila PAN ternyata memilihnya untuk mendampingi Amien Rais, kesimpulannya sudah jelas. Yakni karena keadaan terpaksa, disamping itu juga mengharapkan kekuatan dana yang dimiliki salah satu dari tokoh militer itu.

