Amien Rais Bakal Gandeng TNI Jadi Cawapres Oktober 23, 2003
Posted by Slamet Hariyanto in ANALISA POLITIK [ Nasional dan Lokal ].Tags: agum gumelar, amien rais, sby, wiranto
trackback
Oleh Slamet Hariyanto
Calon presiden dari PAN Amien Rais memastikan bakal menggaet kader TNI untuk posisi cawapres. Pernyataan politik itu diungkapkan di Surabaya, Jum’at (17/10) dan mengaku bahwa keputusan itu final karena sudah dipikirkan secara matang. Amien juga menyatakan keyakinannya kalau menggandeng militer dia bisa menjadi kuat, aman serta sukses dalam memimpin negara.
Mantan ketua PP Muhammadiyah itu juga mengakui bahwa keputusannya menggandeng militer itu bakal menimbulkan banyak pertanyaan. Hal itu karena bertentangan dengan semangat reformasi 1998 yang secara nyata menolak kehadiran militer. Amien juga sadar kalau keputusannya itu bisa mengurangi dukungan kepada dirinya terutama dari kalangan yang tidak suka pada TNI.
Namun ketika dipancing empat nama jendral yang bakal dipilihnya untuk dijadikan cawapres, ternyata Amien menolak. Secara diplomatis dia menjawab bahwa masih banyak prajurit bagus diluar empat jendral tersebut. Padahal empat nama jendral itu adalah Wiranto, Prabowo Subianto, Susilo Bambang Yudhoyono dan Agum Gumelar.
Dari empat jendral tersebut, ada dua tokoh TNI yang sudah masuk dalam 7 besar capres hasil pra konvensi Partai Golkar yakni Wiranto dan Prabowo. Sedangkan Susilo Bambang Yudhoyono dan Agum Gumelar sudah masuk dalam deretan 10 tokoh yang direkomendasikan Rakernas PAN di Makassar, Juni 2003, untuk dipilih menjadi cawapres mendampingi capres Amien Rais.
Maka pernyataan Amien Rais tentang kepastiannya bakal menggandeng kader TNI sebagai cawapres versi PAN tersebut dapat dicermati dalam tiga catatan penting. Pertama, sebagai tokoh di barisan terdepan dalam gerakan reformasi 1998, Amien sudah menunjukkan sikap inkonsistensi terhadap penolakan kehadiran militer. Perubahan sikap ini semakin melengkapi label perilaku politik Amien yang dinilai gampang berubah. Opini seperti ini sebenarnya merugikan image Amien Rais di mata publik.
Kedua, hanya dalam hitungan empat bulan pasca rakernas PAN di Makassar, Amien telah mengabaikan keputusan penting partainya tentang figur cawapres yang harus dipilihnya. Rakernas PAN tersebut merekomendasikan 10 tokoh terdiri atas 2 figur militer dan 8 figur tokoh sipil.
Pernyataan Amien bakal menggandeng figur militer sebagai cawapres itu berarti menggugurkan 8 nama tokoh sipil yang direkomendasikan Rakeras PAN. Mereka adalah Aa’ Gym, Hasyim Muzadi, Kwik Kian Gie, Marwah Daud Ibrahim, Rachmawati Soekarnoputri, Saifullah Yusuf, Sri Sultan Hamengkubuwono X, Yusuf Kalla.
Penolakan terhadap figur Agum Gumelar dan Susilo Bambang Yudhoyono juga menggambarkan Amien mengabaikan dua tokoh militer tersebut yang sudah direkomendasikan Rakernas PAN. Jadi Rakernas PAN di Makassar yang sudah susah payah diselenggarakan 9-11 Juni 2003 menjadi sia-sia.
Padahal ketika pembukaan rakernas, nama Agum Gumelar dan Susilo Bambang Yudhoyono dan tujuh tokoh lainnya ditawarkan sendiri oleh Amien Rais kepada peserta rakernas PAN. Tawaran tersebut akhirnya diterima menjadi keputusan rakernas yakni ada 10 tokoh yang direkomendasikan sebagai cawapres pendamping Amien Rais.
Ketiga, partai pimpinan Amien Rais itu sedang merancang strategi untuk menggaet tokoh muda dari kalangan militer. Klasifikasi tokoh muda TNI ini bisa saja tertuju pada mereka yang kini masih aktif di kesatuannya. Mereka dipertimbangankan bisa layak jual karena tidak terlibat sebagai figur sentral TNI di masa orde baru.
Dengan menampilkan tokoh muda TNI tersebut, PAN masih bisa bermanuver bahwa prajurit yang digandeng Amien Rais masih tergolong TNI reformis. Persoalannya, sampai sejauhmana figur tokoh muda TNI itu memiliki daya tarik tinggi di mata rakyat pemilih. Dukungan luas dari rakyat (terutama dari keluarga besar prajurit) diharapkan dapat mendongkrak perolehan suara Amien Rais dalam pemilihan presiden secara langsung oleh rakyat.
Padahal, sementara ini figur kader TNI yang memiliki pengaruh dan dukungan luas di jajaran keluarga besar prajurit justru ditunjukkan kepada figur Wiranto. Terbukti, Wiranto mampu menduduki peringkat ketiga (setelah Aburizal Bakrie dan Surya paloh) pada pra konvensi Partai Golkar. Rakyat boleh mencoba menerka siapa tokoh TNI yang bakal dibidik Amien Rais menjadi cawapres. Tapi, rakyat juga harus siap mental bila tiba-tiba Amien Rais berubah lagi sikap politiknya.

