Memilih Jadi Kolektor Kaos Parpol Februari 15, 2004
Posted by Slamet Hariyanto in ANALISA POLITIK [ Nasional dan Lokal ].Tags: golput
trackback
Oleh Slamet Hariyanto
Karena parpol tidak berhasil melakukan peran pendidikan politik bagi rakyat, akhirnya tugas itu diambil alih oleh masyarakat. Proses pembelajaran itu berlangsung secara alamiah selama kurun waktu lima tahun terakhir. Tepatnya sejak pasca Pemilu 1999 sampai dengan menjelang pelaksanaan Pemilu 2004 nanti. Masyarakat menjadi terdidik dirinya sendiri dengan menggunakan metode belajar dari pengalaman. Dasar logikanya yang dipakai tidak lain adalah filsafat pengalaman itu guru terbaik bagi kehidupan.
Kondisi politik dan carut marutnya konflik internal lembaga parpol, termasuk tingkah laku kadernya di lembaga legislatif dan pemerintahan secara tidak langsung memberi pelajaran bagi rakyat. Bentuknya berupa meningkatnya apatisme rakyat terhadap lembaga politik. Paradigma baru ini bakal mewarnai sikap politik rakyat dalam melihat wajah pemerintahan yang akan datang.
Rakyat punya hak untuk menilai semua parpol yang dulu pernah ikut Pemilu 1999. Lebih-lebih terhadap parpol yang beruntung mendapat jatah kursi legislatif maupun yang sedang menikmati empuknya kursi jabatan di pemerintahan. Secara umum rakyat menilai bahwa aspirasi mereka belum secara maksimal dijalankan oleh pemerintah dan parlemen.
Pada iklim politik seperti inilah sikap golput (tidak memilih) menjadi tumbuh dan berkembang di masyarakat. Jika selama ini sikap golput itu hanya diminati kalangan terdidik di daerah perkotaan, kini juga merambah kalangan rakyat jelata. Maka lengkap sudah kontruksi golput di Indonesia dari kalangan atas sampai bawah.
Pertama, golput yang berasal dari kalangan menengah keatas lebih sering tampil atraktif di berbagai forum. Mereka sering menunjukkan sikap politiknya lewat acara-acara diskusi, seminar dan sejenisnya. Argumentasi yang mereka kemukakan juga didukung logika secara ilmiah
Sedangkan dari kalangan usia muda (mayoritas aktifis mahasiswa) gerakannya lebih atraktif berupa unjukrasa di jalan-jalan dan mendatangi tempat yang strategis seperti gedung parlemen. Seperti biasanya orang berunjukrasa, ekspresi sikapnya ditunjukkan dengan orasi, poster, spanduk, selebaran yang tujuannya memancing media massa untuk meliput. Hasil liputan media massa dianggap sebagai cara paling efektif untuk sosialisasi sikap golput mereka.
Kedua, golput dari kalangan bawah yang mulai marak menjelang masa kampanye Pemilu 2004. Kalangan ini pada Pemilu 1999 lalu sangat getol mendukung partai-partai baru yang dianggap reformis. Sasaran umpatan mereka ditujukan kepada tiga parpol yang menjadi pilar orde baru. Gerakan inilah yang membuat merosotnya perolehan suara Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI).
Kini mereka mendapati satu realitas bahwa semua parpol baik yang berdiri sejak orde baru maupun parpol baru (berdiri setelah era reformasi) sama-sama mengecewakan rakyat. Kekecewaan mereka sangat tidak nampak secara atraktif. Sikap pasif dan cenderung diam itulah yang bisa membuat kalangan parpol terkecoh. Sebab, penolakannya terhadap kehadiran parpol saat ini masih disimpan di dalam hati.
Eksistensi golput dari kalangan bawah cukup unik untuk dicermati. Beberapa kali even parpol-parpol yang perlu pengerahan massa, mereka juga jadi sasaran untuk diajak berperanserta. Imbalan yang diberikan parpol, baik berupa kaos dan atribut lainnya, uang transport dan fasilitas konsumsinya benar-benar dimanfaatkan. Mereka dapat kaos parpol dan uang, setelah itu putus sudah komitmen dengan parpol tersebut.
Di hari lainnya ketika ada parpol lain mengajak acara serupa ternyata mereka juga menyambutnya dengan motivasi yang sama, kaos parpol dan uang. Kalau ingin monitoring tentang parpol apa saja yang sudah melakukan kampanye yang masuk rumah mereka, cukup gampang. Bisa dilihat dari jumlah kaos parpol yang sekarang dimiliki dan dikoleksi mereka.
Boleh dibilang mereka termasuk jenis golput mandiri, karena sikap politiknya hanya diyakini sendiri tanpa berminat untuk mempengaruhi orang lain untuk mengikuti jejaknya. Tapi karena jumlah masyarakat kalangan bawah ini lebih banyak daripada jumlah masyarakat kalangan menengah keatas, tentu gerakan (meskipun kelihatannya diam) mereka sangat signifikan bagi merosotnya perolehan suara parpol peserta Pemilu 2004 nanti.
Mereka benar-benar menjadi TPA (tempat penampungan akhir) kaos 24 parpol yang diedarkan kepada masyarakat pemilih. Penerimaan pembagian kaos parpol tidak ada korelasinya dengan pilihan politiknya terhadap parpol tersebut. Tumbuh dan suburnya golput dari kalangan bawah ini bakal memerikan pendidikan politik bagi elit parpol bahwa rakyat tidak bisa dibohongi terus menerus. Memilih jadi kolektor kaos parpol dainggap sebagai jalan terbaik bagi rakyat kecil yang kecewa dengan partai politik peserta pemilu.

