Amien Rais dan Geliat Poros Kecil April 15, 2004
Posted by Slamet Hariyanto in ANALISA POLITIK [ Nasional dan Lokal ].Tags: aburizal bakrie, amien rais, kwik kian gie, megawati, pan, pdip, prabowo, surya paloh, yusril ihza mahendra
trackback
Oleh Slamet Hariyanto
Meskipun PAN tidak memenuhi target perolehan suara pada pemilu legislatif 5 April 2004, namun Amien Rais tetap bersikukuh mencapreskan dirinya. Mantan ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu mengaku tekadnya untuk terus maju dalam pemilihan presiden 5 Juli 2004 nanti karena selain didukung PAN, juga didorong oleh Muhammadiyah dan kekuatan reformis lainnya.
Bedanya, kalau biasanya Amien Rais sering menyebut figur militer sebagai cawapres yang ideal untuk mendampingi dirinya, tapi kali ini dia berubah pilihannya kepada figur dari kelompok nasionalis. Publik pun maklum karena figur militer yang sering disebut Amien Rais itu adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang kini menjadi capres andalan Partai Demokrat. Maka pupus sudah harapan Amien untuk menggandeng SBY sebagai cawapres.
Sedangkan penyebutan figur kelompok nasionalis itu masih dalam tataran “kata bersayap” karena menurut pandangan PAN, figur militer juga termasuk dalam klasifikasi nasionalis. Pernyataan politik PAN ini makin melengkapi betapa labilnya sikap partai berlambang matahari ini dalam mencari pasangan cawapres untuk Amien Rais. Perubahan strategi ini karena diluar dugaan ternyata Partai Demokrat memperoleh suara yang cukup signifikan mengungguli PAN.
Padahal kalau dihitung secara politis, SBY itu hanya bekerja secara efektif hanya 22 hari masa kampanye pemilu 2004. Tepatnya, sejak 11 Maret 2004 (ketika mundur dari jabatan Menkopolkam) sampai dengan berakhirnya masa kampanye 1 April 2004. Hasil kerja SBY yang waktunya relatif singkat itu secara signifikan mendongkrak popularitas dirinya dan Partai Demokrat yang dibidaninya. Kerja keras SBY selama 22 hari itu telah mengalahkan kerja Amien Rais selama 11 tahun sejak mendirikan PAN tahun 1998.
Maka dampak hasil pemilu legislatif 5 April 2004 lalu akan menentukan peta politik pemilihan presiden 5 Juli 2004 mendatang. Bagaimana pun koalisi antar parpol bakal terjadi dengan landasan perolehan suara pemilu legislative serta kesamaan kepentingan politik lainnya. Diperkirakan bakal ada Empat Poros yang mewarnai koalisi antar parpol dalam pemilihan presiden dan cawapres nanti.
Pertama, tampilnya Poros PDIP yang sampai sekarang patnernya hanya satu yakni PPP. Hal itu terjadi karena pasangan Megawati-Hamzah selama beberapa tahun terakhir ini dinilai kedua belah pihak masih cocok. Pasangan kedua tokoh ini memenuhi unsur kelompok nasionalis dan Islam.
Kedua, kekuatan koalisi dari belasan parpol yang kini sedang kompak memprotes KPU. Poros ini akan menjadi saingan berat dari Poros PDIP-PPP. Sebab, kalau ternyata PKB mampu menjaga dominasi koalisi belasan parpol ini, maka arah untuk menjagokan SBY sebagai capres sangat terbuka lebar. Otomatis, Partai Demokrat akan bergabung didalamnya karena ketemu taktis yakni sama-sama mencapreskan SBY.
Ketiga, lahirnya Poros Partai Golkar pasca konvensi di internal partai berlambang pohon beringin ini. Proses konvensi akan “membuang” 5 capres dari Partai Golkar. Andaikata yang menang konvensi Akbar Tanjung, maka sangat mungkin terjadi koalisi dengan SBY. Sebab, hitungan politik Akbar akan lebih aman dalam posisi wapres saja. Apalagi meskipun Partai Golkar menjadi pemenang pemilu legislatif misalnya, perolehan suara yang dibawah 50 persen itu tetap tidak bisa bebas melenggang sendirian dalam bursa capres.
Keempat, meskipun sebagai kekuatan paling kecil, PAN akan membuat poros sendiri untuk mengantarkan Amien Rais dalam pemilihan presiden. Poros Amien Rais ini yang paling sulit mencari patner karena tetap ngotot hanya ingin jadi capres. Sehingga, optimisme PAN untuk mendapat dukungan dari parpol berbasis Islam agaknya bukan sesuatu yang gampang.
Sebut saja PBB pimpinan Yusril Ihza Mahendra dan PKS pimpinan Hidayat Nurwahid. Kedua tokoh parpol berbasis Islam ini memiliki kedekatan hubungan dengan SBY relatif lebih baik ketimbang hubungan mereka dengan Amien Rais. Dengan peta semacam ini kemungkinan yang dapat diharapkan Amien Rais dapat patner adalah tokoh-tokoh yang kalah dalam konvensi Partai Golkar.
Dari enam peserta konvensi Partai Golkar, sudah jelas Wiranto tidak tertarik untuk jadi cawapres. Maka figur Wiranto juga sulit untuk bersedia jadi cawapres mendampingi Amien Rais. Satu-satunya capres peserta konvensi Partai Golkar yang berasal dari figur militer hanya tinggal Prabowo Subianto. Dan figur sipil lainnya seperti Jusuf Kalla (kalau mau menyeberang dari Golkar) lebih berpeluang untuk digandeng porosnya Megawati atau porosnya SBY. Sisanya, tinggal Aburizal Bakrie dan Surya Paloh.
Lalu apakah yang dimaksud dengan figur nasionalis (atau militer) yang dimaksud PAN untuk mendampingi Amien Rais itu adalah salah satu dari Prabowo atau Surya Paloh? Tunggu saja perkembangan lebih lanjut, sebab diluar kedua figur itu masih ada stok lain yang sudah diputuskan rakernas PAN di Makasar 9-11 Juni 2003. Yakni dua tokoh yang termasuk kelompok nasionalis, Kwik Kian Gie dan Rachmawati Soekarnoputri.

