jump to navigation

Menang Pemilu Legislatif dan Capresnya Gagal Juli 22, 2004

Posted by Slamet Hariyanto in ANALISA POLITIK [ Nasional dan Lokal ].
Tags: ,
trackback

Oleh Slamet Hariyanto

Dua peristiwa politik dalam pemilu di era reformasi telah memberikan pelajaran menarik bagi perjalanan bangsa ke depan. Pemilu (legislatif) 1999 dimenangkan PDIP yang otomatis meraih jumlah kursi terbanyak di DPR. Partai Golkar berada di peringkat kedua. Namun, ketua umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri yang sudah digadang-gadang sebagai capres di SU MPR 1999 gagal merebut kursi presiden karena dihadang konspirasi politik di tingkat elit nasional.

Kala itu, pemilihan presiden dan wakil presiden dilakukan oleh MPR. Terpaksa PDIP harus menerima kenyataan pahit kursi kepresidenan diambil Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dari PKB dan Megawati hanya di posisi wakil presiden. Kegagalan PDIP itu karena strategi “tertutup” yang diterapkannya. Situasi ini memberikan peluang pada lawan-lawan politiknya menggalang koalisi untuk  menghadang Megawati.

Meski pun dalam perjalanan berikutnya kepresidenan Gus Dur harus dilengserkan di tengah jalan lewat SI MPR. Pada saat inilah Megawati baru berhasil merebut kursi kepresidenan bersama wakil presiden Hamzah Haz dari PPP. Pemerintahan Mega-Hamzah berjalan aman-aman saja tanpa ada gangguan untuk didongkel di tengah jalan.

Pemerintahan ini pula yang mengantarkan bangsa ini menuju Pemilu 2004 dengan sistem politik yang baru. Pemilu legislatif benar-benar digelar hanya untuk memilih anggota DPR/D dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Struktur keanggotaan DPR seluruhnya diisi anggota yang dipilih oleh rakyat lewat pemilu. Karena unsur TNI-Polri tidak lagi duduk di lembaga legislatif ini. MPR pun anggotanya diisi oleh anggota DPR dan DPD yang sama-sama dipilih oleh rakyat lewat pemilu.

Pemilu legislatif sudah digelar 5 April 2004, hasilnya telah dimenangkan Partai Golkar. Sedangkan PDIP berada di peringkat kedua. Peristiwa politik ini meruapakan bukti bahwa kepercayaan publik terhadap PDIP telah turun. Disamping itu, jumlah golput (tidak memilih) melonjak secara drastis. Kemenangan Partai Golkar pada pemilu legislatif ini bisa dibilang karena dua momentum tersebut. Yakni, turunnya kepercayaan rakyat terhadap PDIP dan melonjaknya jumlah golput.

Mesin politik Partai Golkar ternyata belum bekerja secara optimal. Itu pula sebabnya mengapa capres Wiranto yang dijagokan Partai Golkar bakal kalah dalam pemilhan presiden (pilpres) putaran pertama tanggal 5 Juli 2004. Kesimpulan ini resminya masih harus menunggu selesainya perhitungan suara secara nasional. Namun, dari perolehan suara sementara, rasanya sulit bagi Wiranto untuk lolos ke putaran kedua.

Diperkirakan hasil pilpres putaran pertama menempatkan capres Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam peringkat satu dan capres Magawati di peringkat kedua. Fenomena SBY dengan bendera Partai Demokrat benar-benar memberikan warna baru bagi perpolitikan di negeri ini. Tapi, hasil final pilpres masih harus melalui tahapan penentuan di pilpres putaran kedua tanggal 20 September 2004.

Yang bisa dicacat dalam proses ini adalah kesamaan nasib PDIP dan Partai Golkar dalam dua pemilu berturut-turut. Partai yang memenangkan pemilu legislatif, ternyata gagal menjadikan capresnya untuk menjadi presiden secara definitif. Megawati meskipun PDIP menang pemilu 1999, gagal menjadi presiden di SU MPR 1999. Sekarang, Wiranto juga gagal jadi presiden karena kalah dalam pilpres putaran pertama, meskipun Partai Golkar menang pada pemilu (legsilatif) 2004.

Bedanya, Megawati gagal di MPR 1999 dan Wiranto gagal ditangan rakyat yang melakukan pemilihan langsung pada pilpres 2004. Kedua capres yang lolos ke putaran kedua nanti boleh optimis menurut prediksi tim suksesnya masing-masing. Elit parpol yang gagal pada putaran pertama boleh saja merancang koalisi politik di tingkat nasional.

Tapi, rakyat punya hak politik yang bisa mengagetkan semua pihak. Kehendak politik rakyat tidak bisa semata-mata ditentukan oleh arahan dari elit politik di tingkat nasional. Partai boleh berbeda, tapi presidennya punya pilihan yang sama. Atau partai boleh sama, tapi presidennya punya pilihan berbeda. Faktor inilah yang bakal menentukan nasib SBY dan Megawati di pilpres putaran kedua nanti.

Agaknya, daya tarik figur capres menjadi pertimbangan utama bagi rakyat dalam menentukan pilihannya. Andalan program, visi, misi dan platform parpol harus diakui tidak membawa daya tarik tinggi bagi rakyat di tingkat bawah. Wacana politik yang diusung elit perkotaan ternyata juga tidak mempan menembus rasa simpatik rakyat di tingkat bawah. Nyaringnya elit perkotaan mempermalahkan gender, mempertentangkan figur sipil dan militer, seolah-olah tidak digubrik oleh masyarakat pedesaan.

Tradisi menang pemilu legislatif tapi kalah dalam pemilihan presiden seperti yang dialami PDIP (1999) dan Partai Golkar (2004) sudah tidak bisa dipakai pedoman dalam pilpres putran kedua. Karena yang lolos adalah SBY dan Megawati yang dua-duanya bukan berasal dari partai pemenang pemilu legislatif 2004. Kehendak rakyatlah yang menentukan siapa diantara SBY atau Megawati yang dipercaya memimpin bangsa ini lima tahun ke depan. Pamor figur capres di mata publik telah menjadi pegangan utama rakyat pemilih

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: