Akbar Tandjung Tak Rela Dikalahkan PAN Oktober 5, 2006
Posted by Slamet Hariyanto in ANALISA POLITIK [ Nasional dan Lokal ].Tags: akbar tandjung, pan, Partai Golkar, soetrisno bachir
trackback
Oleh Slamet Hariyanto
Dalam diskusi Ramadhan 1427 H yang digelar DPP PAN di Jakarta, Jum’at 29 September 2006, mantan ketua DPR Tandjung mengaku tidak rela jika Partai Golkar dikalahkan PAN pada Pemilu 2009 nanti. Kalau dikalahkan parpol lain, misalnya PDIP, Akbar bisa terima, tapi kalah sama PAN jelas dia tidak terima. Seloroh Akbar yang disampaikan dalam forum diskusi tersebut menjawab joke ketua umum DPP PAN Soetrisno Bachir. Diskusi yang juga menghadirkan Mendiknas Bambang Sudibyo selaku ketua Dewan Pakar PAN itu berlangsung gayeng.
Soetrisno memang bilang bahwa PAN akan mengalahkan Partai Golkar, karena partai berlambang beringin itu kini tidak lagi dipimpin Akbar Tandjung. Sementara itu Bambang Sudibyo mengatakan agar bisa menang pemilu, sebuah paropl harus merawat dan mengelola konstituen. Para pemilih itu harus menyebar mulai dari perkotaan sampai pedesaan. Kalau PAN dapat merawat konstituen di kota dan desa, pasti ada peluang menang.
Mencermati persaingan parpol di Pemilu Legislatif 2004 lalu, Partai Golkar dibawah pimpinan Akbar Tandjung tampil sebagai pemenang. Meskipun pada Pemilu 1999 Partai Golkar harus mengakui kekalahannya dengan PDIP. Akhirnya kemenangan itu direbut kembali oleh Partai Golkar pada Pemilu 2004. Sehingga komposisi perolehan kursi DPR RI berturut-turut adalah Partai Golkar 127 kursi, PDIP 109 kursi, PPP 58 kursi, Partai Demokrat 56 kursi, PAN 53 kursi, PKB 52 kursi, PKS 45 kursi, PBR 14 kursi, PDS 13 kursi, PBB 11 kursi, PPDK 4 kursi, PP 3 kursi, PKPB 2 kursi, dan PKPI, PPDI, PNI masing-masing 1 kursi.
Sebagai ketua umum DPP Partai Golkar ketika menjelang Pemilu 2004 Akbar Tandjung cukup all out untuk mendongkrak perolehan suara bagi partainya. Dia sangat menguasai data kekalahan Partai Golkar pada Pemilu 1999 terutama di daerah-daerah. Setiap berkungjung ke daerah, Akbar selalu memberi evaluasi kekalahannya di Pemilu 1999, sekaligus memotivasi kadernya untuk memenangkan Pemilu 2004. Salah satunya ketika menjelang Pemilu 2004 dia memberi pengarahan di depan raker Partai Golkar Surabaya di Hotel Satelit.
Dengan lantang dan tidak guyon, Akbar diatas podium mengatakan penyesalannya kepada jajaran Partai Golkar Surabaya. Dia juga bilang sangat kebangetan di Surabaya ternyata Partai Golkar kalah sama PAN. Kalau kekalahan Partai Golkar terhadap PDIP di Surabaya sangat dia maklumi. Penyesalannya terhadap kekalahan Partai Golkar atas PAN di Surabaya pada Pemilu 1999 lalu, benar-benar disampaikan dengan nada serius. Tidak berupa joke seperti dalam diskusi di Rumah PAN Jakarta , Jum’at 29 September 2006 lalu.
Memang waktu di Hotel Satelit tahun 2004 itu, Akbar punya alasan kuat, karena realitas hasil Pemilu 1999 di Surabaya, Partai Golkar dikalahkan PAN. Dari perolehan kursi DPRD Surabaya hasil Pemilu 1999 berturut-turut PDIP 22 kursi, PKB 7 kursi, PAN 4 kursi, Partai Golkar 3 kursi, dan PPP, PBB, PKP, PBI masing-masing dapat 1 kursi. Sisanya sebanyak 5 kursi milik anggota dewan dari TNI-Polri. Kondisi itu benar-benar dipengaruhi oleh suasana reformasi 1998.
Sehingga 3 parpol baru yang lahir setelah reformasi (PDIP, PKB dan PAN) benar-benar mampu mengalahkan tiga parpol lama yang eksis sejak orde baru yakni Golkar, PPP dan PDI. Hasil lengkapnya adalah Partai Golkar dapat 3 kursi, PPP dapat 1 kursi, dan PDI (Partai Demokrasi Indonesia) tidak dapat kursi. Dari segi perolehan suara, Partai Golkar dapat 118.645 suara (8,4 persen), sedangkan PAN dapat 151.147 suara (10,7 persen).
Apakah harapan Akbar Tandjung agar Partai Golkar tidak kalah lagi dengan PAN pada Pemilu 2004 di Surabaya itu berhasil? Ternyata tidak berhasil. Partai Golkar dapat (4 kursi), masih kalah dengan PAN (5 kursi). Sebenarnya, perolehan suara PAN dan Partai Golkar di Surabaya pada Pemilu 2004 turun drastis bila dibandingkan dengan perolehan suara pada Pemilu 1999. PAN dapat 101.832 suara (turun 49.315 suara), dan Partai Golkar dapat 81.119 suara (turun 37.526 suara).
Hanya karena diuntungkan oleh sistem daerah pemilihan menurut UU Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilu, sehingga PAN dan Partai Golkar kursinya bertambah di DPRD Surabaya. Bila dibandingkan dengan Pemilu 1999 dan Pemilu 2004 baik PAN maupun Partai Golkar masing-masing bertambah 1 kursi. Itu realitas politik di Surabaya tentang konsisi PAN dan Partai Golkar.
Turunnya suara Partai Golkar dan PAN di Surabaya pada Pemilu 2004 itu ternyata diiringi turunnya suara PDIP dan naiknya suara PKB dan PKS. Juga adanya realitas politik hadirnya parpol baru seperti Partai Demokrat dapat 184.528 suara, PDS dapat 92.101 suara, serta PKS (parpol lama perubahan dari Partai Keadilan) dapat 79.946 suara. Dengan kata lain Partai Demokrat mampu mengalahkan PAN dan Partai Golkar. Sedangkan PDS juga mampu mengalahkan Partai Golkar, bahkan PKS hampir menyamai perolehan suara Partai Golkar.
Meskipun di Surabaya terjadi penurunan suara dialami Partai Golkar dan PAN, namun secara nasional kedua parpol itu menunjukkan keadaan yang berbeda. Partai Golkar naik drastis sehingga menjadi pemenang Pemilu 2004, sedangkan PAN mengalami penurunan perolehan suara. Oleh karena itu joke dua tokoh politik antara Soetrisno Bachir dan Akbar Tandjung di Jakarta baru-baru sangat menarik untuk dilihat hasil resminya pada Pemilu 2009 nanti.
Soetrisno sejak menjadi ketua umum DPP PAN selalu bergaya optimis dapat mampu mendongkrak suara parpolnya. Tapi, dia harus sadar bahwa turunnya suara PAN pada Pemilu 2004 lalu sebenarnya disebabkan banyaknya konstituen dari warga Muhammadiyah yang kecewa dengan PAN. Mereka sebagian mengalihkan pilihannya pada PKS, dan sebagian besar lainnya menjadi golput.
Padahal PAN waktu itu masih dipimpin Amien Rais yang dikenal mampu menjadi daya tarik bagi warga Muhammadiyah. Sedangkan figur Soetrisno belum tentu mampu mengembalikan rasa simpatik warga Muhammadiyah yang sudah meninggalkan PAN untuk kembali lagi pada Pemilu 2009 nanti. Lalu, Akbar Tandjung kini tidak lagi memimpin Partai Golkar, sehingga kiat-kiat kemenangannya pada Pemilu 2004 tidak bisa sepenuhnya diapresiasikan pada parpol berlambang pohon beringin itu.

