jump to navigation

Bongkar Pasang AD/ART di Munas Golkar Agustus 24, 2009

Posted by Slamet Hariyanto in ANALISA POLITIK [ Nasional dan Lokal ].
Tags: , , , , , , , ,
comments closed

Oleh Slamet Hariyanto

Persaingan kandidat ketua umum di Munas Partai Golkar 4-7 Oktober 2009 makin ketat. Dua kubu politisi senior yang masing-masing menjagokan Aburizal Bakrie (Ical) dan Surya Paloh sama-sama siap dengan strategi pemenangan masing-masing. Ditengah persaingan dua kubu itu muncul pesaing lain dari kalangan muda yakni Yuddy Chrisnandi. Dan paling belakang juga muncul Tommy Soeharto ikut meramaikan bursa calon ketua umum.

(baca selengkapnya)

Iklan

Sengketa Pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan 2007 Januari 29, 2008

Posted by Slamet Hariyanto in LEGAL OPINION MASALAH SENGKETA POLITIK.
Tags: , , , ,
comments closed

Pilkada Propinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) masih menyisakan sengketa. Pasca keputusan Mahkamah Agung (MA) yang memerintahkan dilakukan pilkada ulang di empat kabupaten, pihak PKU Sulsel mengajukan peninjauan kembali (PK). Sudah tepatkah putusan MA? Dan bagaimana peluang KPU Sulsel dalam upaya PK? Berikut ini Legal Opinion (pendapat hukum) yang ditulis analis politik dan hukum H Slamet Hariyanto SPd SH.

(baca selengkapnya)

Manuver Gus Sholah dan Matori Bermakna Ganda Maret 27, 2003

Posted by Slamet Hariyanto in ANALISA POLITIK [ Nasional dan Lokal ].
Tags: ,
comments closed

Oleh Slamet Hariyanto

Posisi politik Gus Dur di lingkungan PKB Kuningan masih jadi unggulan yang sulit tertandingi kader lainnya. Bila situasi politik memungkinkan bagi PKB untuk mencalonkan presiden, maka nama Gus Dur berada di barisan terdepan untuk dijagokan. Saat ini langkah politik PKB adalah sedang menunggu perkembangan pembahasan RUU Pilpres dan konstelasi politik lainnya. Sehingga, pemunculan nama Gus Dur dan figur alternatifnya dalam bursa capres PKB belum berani digulirkan.

Pada konteks ini manuver politik Shalahuddin Wahid (Gus Sholah, Ketua PBNU) dan Matori Abdul Djalil (PKB Batutulis) yang sudah melontarkan dukungan kepada Gus Dur sebagai capres, termasuk jadi wacana menarik. Kedua tokoh ini dikenal sebagai kader NU yang berseberangan sikap politiknya dengan Gus Dur. Jika manuver itu dikategorikan sebagai bentuk petualangan politik, rasanya tidak tepat mengingat kredibilitas Gus Sholah selama ini sangat jauh dari sikap negatif ini. Mungkin, tuduhan itu agak cocok kalau dialamatkan kepada Matori.

Lalu ada apa dibalik manuver Gus Sholah? Melihat perkembangan politik dibawah permukaan dalam menyongsong Pilpres model dipilih langsung oleh rakyat, tentu manuver Gus Sholah bukan sekadar guyonan politik. Paling tidak ada korelasi dengan beberapa hal. Pertama, proses pembahasan RUU Pilpres bakal terjadi dorongan kuat dari PDIP dan Partai Golkar untuk menggolkan pasal yang mensyaratkan 20 persen perolehan suara dapat mengajukan capres/cawapres. Merujuk hasil Pemilu 1999, pasal ini hanya menguntungkan dua partai besar tersebut. Sebab, hanya PDIP dan Partai Golkar saja yang memperoleh suara diatas 20 persen.

Upaya PDIP dan Partai Golkar ini sungguh tidak menguntungkan bagi PKB untuk ikut berlaga dalam bursa capres. Jika terpaksa dikompromikan koalisi dengan partai besar, PKB hanya punya bargaining untuk posisi cawapres. Tentu, PKB tidak mungkin bisa memaksakan Gus Dur untuk dijagokan jadi capres. Maka, harus ada alternatif (selain Gus Dur) untuk merebut posisi cawapres. Padahal calon alternatif itu saat ini berada diluar struktur PKB, yakni Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi yang memang sedang dilirik banyak pihak (diluar PKB) untuk dicalonkan.

Kedua, menghadapi situasi politik seperti itu, NU berada pada posisi sangat dilematis. Untuk menghindari kemungkinan kalah, Gus Dur tidak dimunculkan sebagai capres. Sebaliknya, mengijinkan KH Hasyim Muzadi digandeng partai besar untuk posisi cawapres. Problem yang bakal dihadapi adalah bila Gus Dur tidak setuju dengan strategi ini dan lebih-lebih bila warga nahdliyin marah kalau Gus Dur tidak dinomorsatukan untuk mewakili komunitas NU. Meredam situasi internal seperti itu, figur Gus Sholah sangat cocok untuk mewakili elit NU dalam mengkomunikasikan kebijakan politik kepada konstituennya di daerah-daerah.

Sebagai adik kandung Gus Dur, tentu Gus Sholah juga menjadi cucu biologis dan ideologis KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Maka suatu hari bila ternyata kebijakan ini dibutuhkan untuk memainkan peran politik yang terpaksa Gus Dur tidak difigurkan, diharapkan opini publik warga nahdliyin bisa dipahamkan. Gus Dur sudah diperjuangkan, namun situasinya menghendaki lain, terpaksa harus ada tokoh NU lainnya yang disodorkan. Perlu dibangun opini bahwa Gus Dur sudah diperjuangkan paling awal. Hal itu sudah dilakukan oleh dukungan Gus Sholah.

Sebab, lewat Gus Sholah pula nantinya umat bisa menerima penjelasan kebijakan untuk tidak mencapreskan Gus Dur dan diganti tokoh NU lainnya untuk dicalonkan sebagai calon wakil presiden. Sebab, partai besar yang bakal meminang tokoh NU nanti pasti sudah menetapkan pilihan capresnya yang berasal dari kader partai tersebut.

Peran penting yang dimainkan Gus Sholah ini sangat menentukan eksistensi NU dalam percaturan politik pada Pemilu 2004. Sedangkan Matori yang dikenal sebagai politisi senior cukup jeli dalam mencermati potensi NU dalam Pilpres 2004. Sehingga, cukup wajar bila manuver Matori (lewat PKB Batutulis) yang mendukung pencapresan Gus Dur itu dicurigai sebagai langkah politik untuk tetap mendapat simpati dari warga nahdliyin, basisnya PKB baik Kuningan maupun Batutulis.

Dengan kata lain, upaya politik Matori yang timing dan materinya sama dengan yang dilakukan Gus Sholah itu hanya demi kepentingan politik dirinya dan kelompoknya. Tentu, tidak ada korelasinya dengan strategi yang bakal jadi kebijakan politik PBNU dalam menghadapi Pemilu 2004.